Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Ini terlalu singkat untuk Selamanya yang terlalu lama

Apa kata cinta perlu diucapkan? Bahkan meski tak sejalan dan tak sealur saja, kita sudah sejauh ini bertahan. Lelah, iya. Namun bila menuruti egois, jangankan aku, orang disekitarpun ikut terluka atas kita. Mari berdoa bersama-sama. Melambungkan hal-hal baik kepada sang pemilik semesta. Menengadahkan tangan dan menunduk sembari meminta semesta agar supaya memberkati kita, menggiring kita untuk ber-iring berdua, merawat kasih sayang yang telah kita pupuk bersama, menjaga cinta yang dahulunya pernah diusahakan mati-matian, meminta agar senantiasa selalu di-pergandeng-kan tangan. Meskipun 'selamanya' itu terlalu lama.

Susah Payahku

Berawal dari aku menemukanmu, yang hanya sebesar biji sawi. Yang kemudian aku merawatnya setiap hari dengan penuh cinta, memupuk dan menyiramimu dengan cinta seutuhnya. Hingga kau beranjak tumbuh dengan cantiknya. Sial. Aku yang merawat, orang lainlah yang mendapat. Bergerak mencari pengganti, tetapi sulit menemukan benih sepertimu lagi. Mencari kemanapun tak ada yang sama, bahkan tak ada yang 'hampir' pula. Kau dinikmati, hingga nyaris mati. Ketika kau usang, naas dibuang kemudian. Sangat ironi, melihatmu kembali dengan tubuh patah dan luka. Aku mencoba menumbuhkan dan memulihkanmu kembali. Memulai lagi, dari awal lagi, berusaha lagi, sekali lagi. Dan, tak semudah yang terlihat. Banyak khawatir setelahnya, mencoba percaya jika ini tak akan gagal seperti sebelumnya. Aku takut kau hilang untuk kedua kalinya. Niat hati ingin memagarimu rapat-rapat, tapi takut jika kau tak tumbuh bersamaku dengan sehat. Serba salah. Kucoba memupukmu lagi. Mencoba kembali, dengan trauma kehilangan,...

Tepat kala ketika kepergian itu terjadi

Hingga tepat dimana apa yang kutakutkan terjadi. Di penghujung malam, sebelum kau melayangkan lambaian. Pelukanmulah yang terakhir kali mengucapkan selamat tinggal. Setiap sekon menghantarkanmu pada kepergian. Aku yang tertinggal menaburkan begitu banyak benih lara. Menghujani tempat dimana kita harus berpisah. Kenyataannya begitu pahit. Untuk sekedar mengelak saja, begitu tak berdaya. Kemudian hanya kilasan bayang yang tersisa. Melihat punggungmu semakin menjauh, menggiringku kepada dunia yang semakin abu-abu. Akankah kau memaafkanku, jika aku masih. Masih menanti kepulanganmu. Ke-pelukanku sekali lagi?

Maaf, aku sudah menuntut sesuatu yang tidak mungkin..

bagaimana tak sesakit ini? aku mencoba membangun percaya sekali lagi, dengan tujuan memberi satu kesempatan yang kurasa perlu untuk kuberikan kepadamu. kupikir kamu mau -dan mampu memperbaiki. naas kemudian. hari ini, berat sudah kecewaku. aku yang selalu saja memberimu maaf, melupakan yang telah kamu lakukan, kini beralih menjadi "kita lihat saja nanti". maaf sayang. aku yang salah, terlalu membebaskanmu pun nyatanya tak sebaik yang kukira. membiarkanmu berkeliaran sesuka hati dengan membawa segala percaya yang aku beri ternyata malah jadi sakit hati yang seperih ini. maaf, jika nyatanya aku bisa kecewa. sekecewa ini. kuharap aku tak jera padamu. disini kita, bersama-sama, meski memulai awal untuk belajar berjalan kembali, dengan menggunakan kaki pincang karna cedera yang kamu sebabkan. tak apa. mari berusaha membangun percaya ini lagi. aku masih denganmu. disini.

Terimakasih, Semesta.

Sungguh, aku cinta, dan aku jatuh di dalamnya. Makin kesini, serasa semakin ingin mempererat genggaman tanganku kepadamu. "Kau ini seistimewa apasih?" Sering kali terbesit tanya, mantra apa yang kau gunakan sehingga mampu merebut seluruh hatiku. *** Menatapmu setengah hari, satu hari, berhari-hari bahkan setiap hari tak pernah sekalipun aku merasa bosan (karna kau sama sekali tak membosankan). *** "How beautiful you are from where I'm standing.." Kau layaknya lirik lagu milik Shawn Mendes, yaa,  seindah itu dirimu. Menjadi pemilik atas dirimu merupakan kebahagiaan paling bahagia setelahnya. Penantian paling terdamba, mimpi yang paling teringin, angan yang paling tertunggu. Tersampaikan juga akhirnya. Lega sudah.