Langsung ke konten utama

Susah Payahku

Berawal dari aku menemukanmu, yang hanya sebesar biji sawi. Yang kemudian aku merawatnya setiap hari dengan penuh cinta, memupuk dan menyiramimu dengan cinta seutuhnya. Hingga kau beranjak tumbuh dengan cantiknya. Sial. Aku yang merawat, orang lainlah yang mendapat.
Bergerak mencari pengganti, tetapi sulit menemukan benih sepertimu lagi. Mencari kemanapun tak ada yang sama, bahkan tak ada yang 'hampir' pula. Kau dinikmati, hingga nyaris mati. Ketika kau usang, naas dibuang kemudian.

Sangat ironi, melihatmu kembali dengan tubuh patah dan luka. Aku mencoba menumbuhkan dan memulihkanmu kembali. Memulai lagi, dari awal lagi, berusaha lagi, sekali lagi.
Dan, tak semudah yang terlihat. Banyak khawatir setelahnya, mencoba percaya jika ini tak akan gagal seperti sebelumnya. Aku takut kau hilang untuk kedua kalinya.
Niat hati ingin memagarimu rapat-rapat, tapi takut jika kau tak tumbuh bersamaku dengan sehat.

Serba salah.

Kucoba memupukmu lagi. Mencoba kembali, dengan trauma kehilangan, yang bersekutu bersama bayang-bayang malam. Menakutiku. Berbisik, jika kau bukan untukku.
Aku benci kenyataan. Aku takut dibohongi. Aku kesal menyangkal hal buruk yang sudah terjadi. Aku geram perihal kehilangan. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya yang berpunya. Berpunya atas kamu, seluruhnya. Bukan diantara mereka yang hanya ingin menjamahmu ketika melihatmu mekar dengan cantik, dan berhasil tumbuh karena usaha dan susah payahnya, aku merawatmu.
🥀

Postingan populer dari blog ini

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...

November Rain, Bait kedua

Aku tak tahu harus sampai berapa bagian lagi aku bercerita. Terlalu banyak yang harus kutuliskan dilembar lembar berikutnya, sama halnya dengan luka yang kuterima di November kemarin lusa. *** Lukaku belum cukup kering karenamu. Masih terekam jelas memori pedih yang pernah sengaja kamu tancapkan dalam hati. Masih terbayang traumatis lama dimana kamu memilih dia. Walau bagimu sudah kadaluwarsa, untukku luka ini masih terasa sangat basah. Aku tak ingin kamu tinggalkan. Apalagi waktu itu aku benar benar membutuhkanmu (bahkan mungkin sampai sekarang). Aku hancur melihatmu sebahagia itu bersamanya. Aku iri, yang dimana kamu selalu meninggikan kedudukannya. Sebelumnya, aku tak pernah kau jadikan ratu dalam hatimu. Apa iya dulunya aku hanya selir yang kamu junjung dengan alasan hanya kasihan saja? Tuan, aku cemburu. *** Aku tak cantik, bahkan aku tak memiliki segalanya. Tak sepunya wanita yang sedang kamu genggam erat tangannya. Pun, terkadang aku sadar, benar aku terlampau kalah jika dibandi...

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...