Berawal dari aku menemukanmu, yang hanya sebesar biji sawi. Yang kemudian aku merawatnya setiap hari dengan penuh cinta, memupuk dan menyiramimu dengan cinta seutuhnya. Hingga kau beranjak tumbuh dengan cantiknya. Sial. Aku yang merawat, orang lainlah yang mendapat.
Bergerak mencari pengganti, tetapi sulit menemukan benih sepertimu lagi. Mencari kemanapun tak ada yang sama, bahkan tak ada yang 'hampir' pula. Kau dinikmati, hingga nyaris mati. Ketika kau usang, naas dibuang kemudian.
Sangat ironi, melihatmu kembali dengan tubuh patah dan luka. Aku mencoba menumbuhkan dan memulihkanmu kembali. Memulai lagi, dari awal lagi, berusaha lagi, sekali lagi.
Dan, tak semudah yang terlihat. Banyak khawatir setelahnya, mencoba percaya jika ini tak akan gagal seperti sebelumnya. Aku takut kau hilang untuk kedua kalinya.
Niat hati ingin memagarimu rapat-rapat, tapi takut jika kau tak tumbuh bersamaku dengan sehat.
Serba salah.
Kucoba memupukmu lagi. Mencoba kembali, dengan trauma kehilangan, yang bersekutu bersama bayang-bayang malam. Menakutiku. Berbisik, jika kau bukan untukku.
Aku benci kenyataan. Aku takut dibohongi. Aku kesal menyangkal hal buruk yang sudah terjadi. Aku geram perihal kehilangan. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya yang berpunya. Berpunya atas kamu, seluruhnya. Bukan diantara mereka yang hanya ingin menjamahmu ketika melihatmu mekar dengan cantik, dan berhasil tumbuh karena usaha dan susah payahnya, aku merawatmu.
🥀