Aku tak tahu harus sampai berapa bagian lagi aku bercerita.
Terlalu banyak yang harus kutuliskan dilembar lembar berikutnya, sama halnya dengan luka yang kuterima di November kemarin lusa.
***
Lukaku belum cukup kering karenamu. Masih terekam jelas memori pedih yang pernah sengaja kamu tancapkan dalam hati. Masih terbayang traumatis lama dimana kamu memilih dia. Walau bagimu sudah kadaluwarsa, untukku luka ini masih terasa sangat basah.
Aku tak ingin kamu tinggalkan. Apalagi waktu itu aku benar benar membutuhkanmu (bahkan mungkin sampai sekarang).
Aku hancur melihatmu sebahagia itu bersamanya. Aku iri, yang dimana kamu selalu meninggikan kedudukannya. Sebelumnya, aku tak pernah kau jadikan ratu dalam hatimu. Apa iya dulunya aku hanya selir yang kamu junjung dengan alasan hanya kasihan saja?
Tuan, aku cemburu.
***
Aku tak cantik, bahkan aku tak memiliki segalanya. Tak sepunya wanita yang sedang kamu genggam erat tangannya. Pun, terkadang aku sadar, benar aku terlampau kalah jika dibandingkan dengan dia. Aku gagal menjadi wanitamu.
Tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku. Tak salah jika ia selalu kau tinggikan dan kau puja puja. Maaf ya, aku tak bisa menjadi seperti yang kamu minta.
"Jika aku berupaya memperbaiki diri, akankah Tuan kembali pada pelukanku lagi?"
>>>>
Tadinya kukira aku adalah rumah, nyatanya kamu hanya tamu yang tak sengaja kusuguhi hati yang kebetulan singgah hanya sejenak untuk mengistirahatkan diri.
Malang, 11 Feb 2022