Langsung ke konten utama

Postingan

Favorit anda >>>

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...
Postingan terbaru

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...

Lebih dari Kesempatan yang Kujanjikan

Usahaku menenggelamkan sakit dan meredam amarah karena sebab yang sama adalah hal yang paling kubenci akhir-akhir ini. Aku tak bermaksud membuatmu patah disaat kuterus terangkan pedih yang tengah kurasa. Kecemburuan yang timbul dariku, merupakan hal yang dirasakan seluruh wanita di dunia, ketika melihat seseorang yang mereka cinta bermesra dengan lain wanita. Seakan meletakkan trauma yang dalam di hati, saat kamu berjumpa dengan wanita itu, terbakar sudah api cemburuku. Sakit. Sesak. Batinku memberontak. Tanganku menengadah memohon pada-Nya, agar aku bisa mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa kuubah . Kesempatan itu telah habis bersama luput kesalahanmu. Seolah tak peduli atas perih yang kamu beri. "Manusia tidak akan pernah mengerti jika tidak mengalami", saat ini aku begitu percaya akan kata mereka. Kupikir dengan kujelaskan dan kuperinci penyebab aku sakit hati akan membuatmu paham dan merubah tindakan yang kamu lakukan. Tidak. Ternyata tetap kau lanjutk...

Ini terlalu singkat untuk Selamanya yang terlalu lama

Apa kata cinta perlu diucapkan? Bahkan meski tak sejalan dan tak sealur saja, kita sudah sejauh ini bertahan. Lelah, iya. Namun bila menuruti egois, jangankan aku, orang disekitarpun ikut terluka atas kita. Mari berdoa bersama-sama. Melambungkan hal-hal baik kepada sang pemilik semesta. Menengadahkan tangan dan menunduk sembari meminta semesta agar supaya memberkati kita, menggiring kita untuk ber-iring berdua, merawat kasih sayang yang telah kita pupuk bersama, menjaga cinta yang dahulunya pernah diusahakan mati-matian, meminta agar senantiasa selalu di-pergandeng-kan tangan. Meskipun 'selamanya' itu terlalu lama.

Susah Payahku

Berawal dari aku menemukanmu, yang hanya sebesar biji sawi. Yang kemudian aku merawatnya setiap hari dengan penuh cinta, memupuk dan menyiramimu dengan cinta seutuhnya. Hingga kau beranjak tumbuh dengan cantiknya. Sial. Aku yang merawat, orang lainlah yang mendapat. Bergerak mencari pengganti, tetapi sulit menemukan benih sepertimu lagi. Mencari kemanapun tak ada yang sama, bahkan tak ada yang 'hampir' pula. Kau dinikmati, hingga nyaris mati. Ketika kau usang, naas dibuang kemudian. Sangat ironi, melihatmu kembali dengan tubuh patah dan luka. Aku mencoba menumbuhkan dan memulihkanmu kembali. Memulai lagi, dari awal lagi, berusaha lagi, sekali lagi. Dan, tak semudah yang terlihat. Banyak khawatir setelahnya, mencoba percaya jika ini tak akan gagal seperti sebelumnya. Aku takut kau hilang untuk kedua kalinya. Niat hati ingin memagarimu rapat-rapat, tapi takut jika kau tak tumbuh bersamaku dengan sehat. Serba salah. Kucoba memupukmu lagi. Mencoba kembali, dengan trauma kehilangan,...

Tepat kala ketika kepergian itu terjadi

Hingga tepat dimana apa yang kutakutkan terjadi. Di penghujung malam, sebelum kau melayangkan lambaian. Pelukanmulah yang terakhir kali mengucapkan selamat tinggal. Setiap sekon menghantarkanmu pada kepergian. Aku yang tertinggal menaburkan begitu banyak benih lara. Menghujani tempat dimana kita harus berpisah. Kenyataannya begitu pahit. Untuk sekedar mengelak saja, begitu tak berdaya. Kemudian hanya kilasan bayang yang tersisa. Melihat punggungmu semakin menjauh, menggiringku kepada dunia yang semakin abu-abu. Akankah kau memaafkanku, jika aku masih. Masih menanti kepulanganmu. Ke-pelukanku sekali lagi?

Maaf, aku sudah menuntut sesuatu yang tidak mungkin..

bagaimana tak sesakit ini? aku mencoba membangun percaya sekali lagi, dengan tujuan memberi satu kesempatan yang kurasa perlu untuk kuberikan kepadamu. kupikir kamu mau -dan mampu memperbaiki. naas kemudian. hari ini, berat sudah kecewaku. aku yang selalu saja memberimu maaf, melupakan yang telah kamu lakukan, kini beralih menjadi "kita lihat saja nanti". maaf sayang. aku yang salah, terlalu membebaskanmu pun nyatanya tak sebaik yang kukira. membiarkanmu berkeliaran sesuka hati dengan membawa segala percaya yang aku beri ternyata malah jadi sakit hati yang seperih ini. maaf, jika nyatanya aku bisa kecewa. sekecewa ini. kuharap aku tak jera padamu. disini kita, bersama-sama, meski memulai awal untuk belajar berjalan kembali, dengan menggunakan kaki pincang karna cedera yang kamu sebabkan. tak apa. mari berusaha membangun percaya ini lagi. aku masih denganmu. disini.

Terimakasih, Semesta.

Sungguh, aku cinta, dan aku jatuh di dalamnya. Makin kesini, serasa semakin ingin mempererat genggaman tanganku kepadamu. "Kau ini seistimewa apasih?" Sering kali terbesit tanya, mantra apa yang kau gunakan sehingga mampu merebut seluruh hatiku. *** Menatapmu setengah hari, satu hari, berhari-hari bahkan setiap hari tak pernah sekalipun aku merasa bosan (karna kau sama sekali tak membosankan). *** "How beautiful you are from where I'm standing.." Kau layaknya lirik lagu milik Shawn Mendes, yaa,  seindah itu dirimu. Menjadi pemilik atas dirimu merupakan kebahagiaan paling bahagia setelahnya. Penantian paling terdamba, mimpi yang paling teringin, angan yang paling tertunggu. Tersampaikan juga akhirnya. Lega sudah.

Memasung Cinta

  Bertahun-tahun aku mencari, "Dimana kamu sembunyikan cinta yang aku pinta? ".   Kuletakkan harap di bawah mimpiku bersamamu. Melekatkan cinta pada hati, yang melayang di atas bayang-bayang kita.   Masih, masih ada cinta yang tengah meraja, berusaha menjamah 'nyata' pada sebuah harap yang terselip dalam ucapan, "Aku menyayangimu. Sangat." ***   Hingga akhirnya tumbuhlah hal paling nyata yang mungkin saja memang berhak kuterima sebagai upah.  “Yaa, benih kecewa.”   Berharap jika cintamu adalah bayaran dari segala upaya yang telah kuusahakan.   "Boleh aku lelah?"   Aku merasa sudah berluap akan usaha dan jerih payah, namun hasilnya, bahkan sebijipun tak berbuah.   Kuputuskan untuk tak lagi mengejar apapun darimu. Kututup cerita ini. Kuhentikan hati yang tengah berlari, kupasungkan cintaku agar tak lagi tumbuh bersama seluruh harapku padamu.   ' Berhenti'.   Tak lagi aku mencari pintas. Bahkan untuk sekali lagi mencoba,  "Sudah. ...

Us

Sayang.. Kita mulai ini bersama. Seumur hidup bersama. Seumur hidup, Yang bukan dijalani dengan merasa 'lama banget'. Namun, Seumur hidup yang terus dinanti. Karena ada pembelajaran hidup, yang membuat masing-masing kita terus bertumbuh menjadi diri & pasangan yang lebih baik setiap harinya. Seumur hidup, Yang mampu dijalani dengan menerima apa adanya, namun sekaligus mampu mengingatkan satu sama lain, agar kita berdua mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Seumur hidup, Yang dijalani dengan terus belajar berkomunikasi. Sampai menemukan 'cara' yang pas, sesuai dengan kita berdua. Sampai kamu yang tadinya kesulitan mengutarakan perasaan, dan aku yang meledak ledak, bisa saling berkomunikasi secara sehat. Sayang, Terimakasih untuk setiap hari baik yang telah kita lewati. Terimakasih kerana telah mencoba, Berusaha selalu ada dan selalu mengerti segala situasi. Perlahan, Tapi pasti, Karena kita berkembang, Serta saling memperbaiki. 🌻 Isnalee , Malang, 26 July 2022