Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

Kamu Sempurna

[01.43] Aku berpuisi saja malam ini. Menata kalimat dan bahasa untuk menceritakan betapa indah yang kupunya. Merawi kisah menjadi beberapa gatra, agar pembaca bisa membayangkan kamu sesempurna apa. *** Tertulis untukmu.. Kamu lebih dari indah, lebih jelas dari kilauan rasi bintang penunjuk arah, lebih bersinar dari purnama, lebih sejuk dari angin diujung teluk. Kamu lebih dari segala indah yang ada dalam semesta. Bisa memilikimu adalah hal manis tak terduga, yang dengan senang hati paling bisa kuterima. Seperti judulnya.. Kamu adalah karya Tuhan paling sempurna , hal terbahari yang paling kusenangi. Dan bagiku, kamu sudah lebih dari lebih. _____________________________________ “Jika merindukanmu adalah hal terberat yang pernah kupikul. Maka, jangan pernah kau jinjingkan beban, pada pundak yang lebih nyaman tanpa keringanan”. Isnalee Malang, 21 Feb 2022

November Rain, Bait kedua

Aku tak tahu harus sampai berapa bagian lagi aku bercerita. Terlalu banyak yang harus kutuliskan dilembar lembar berikutnya, sama halnya dengan luka yang kuterima di November kemarin lusa. *** Lukaku belum cukup kering karenamu. Masih terekam jelas memori pedih yang pernah sengaja kamu tancapkan dalam hati. Masih terbayang traumatis lama dimana kamu memilih dia. Walau bagimu sudah kadaluwarsa, untukku luka ini masih terasa sangat basah. Aku tak ingin kamu tinggalkan. Apalagi waktu itu aku benar benar membutuhkanmu (bahkan mungkin sampai sekarang). Aku hancur melihatmu sebahagia itu bersamanya. Aku iri, yang dimana kamu selalu meninggikan kedudukannya. Sebelumnya, aku tak pernah kau jadikan ratu dalam hatimu. Apa iya dulunya aku hanya selir yang kamu junjung dengan alasan hanya kasihan saja? Tuan, aku cemburu. *** Aku tak cantik, bahkan aku tak memiliki segalanya. Tak sepunya wanita yang sedang kamu genggam erat tangannya. Pun, terkadang aku sadar, benar aku terlampau kalah jika dibandi...

November Rain

   Ini bukan kisah yang diambil dari lagu Guns N' Roses yang biasa kau dengarkan di pojokan kamar. Aku sedang merawi cerita betapa pedihnya Novemberku kala itu. Aku izin mengisahkanmu ya.. Kuharap kamu tak keberatan dengan permohonan sederhanaku yang jika ditimbang, tak sebanding saat aku memintamu untuk pulang. *** Ini akan terasa sedikit sedih. Puisi puisi lama yang sudah kukubur dalam dalam, kini terpaksa harus kukeduk lagi. "Kenapa?" . Banyak manusia yang mempertanyakan dengan alasan apa aku kembali mengingatnya. Padahal sudah sangat gamblang jawabannya, karena " Aku masih sangat cinta." Sudah, aku memang selalu terdengar bodoh di telinga banyak manusia. Dengan ribuan saran dan ocehan yang kudengar,  "Lupakan saja, yang lebih baik darinya masih ada!".  Mungkin mereka benar. Kamu memang bukanlah segalanya, tapi segalanya terasa indah jika kamu ada. *** Namun... Percuma saja ketika aku bersusah payah menggenggammu. Sekuat apapun aku menggenggam, jik...

"Aku Pulang.."

Dari judulnya, terpampang jelas jika kehadiranmu kembali. Sudah lama kunantikan keajaiban Tuhan yang seperti ini. Aku selalu meminta pada-Nya agar kamulah yang menjadi tokoh utama lagi, sering kali terucap meskipun doanya terdengar lirih. *** "Gimana kabarmu?" , kisah ini dimulai saat kamu melantangkan sapaan kecilmu padaku hari itu. (Kali ini sedikit melanjai ceritanya, sedang berbunga bunganya aku mengisahkanmu). Badanku gemetar kala itu, tanganku berkeringat dan kakiku terasa beku. Aku menjawab dengan nada datar karna tak ingin kamu tahu jika aku masih menaruh harap yang besar terhadapmu. "Baik.." , jawabku. Memang singkat, tapi untuk secuil kata yang sebenarnya aku tak sedang baik baik saja perlu effort yang klimaks dalam mengucapkannya. Aku gugup... Aku menatapmu terus menerus, seolah olah mataku tak mampu berpaling dari nikmatnya memandangmu. Hingga hati kecilku berbisik, " Bisakah kamu kembali lagi? Aku rindu." Haha, kasihan ya aku. *** Pagi itu se...

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...

Yang Bertahta

   Bukan seperti ini yang kupinta. Helai helai sayap yang patah berjatuhan tepat di depan matanya. Seandainya saja kau tau jika arah yang kutuju dari dulu adalah kamu, mungkin kau tak akan semudah ini mengabaikanku.   Tapi terkadang percuma apa yang kusampaikan saat minggu lalu aku bertemu denganmu. Bahkan kapan dan dimana kita berjumpa, kamu saja lupa. Lalu untuk apa kupertahankan yang sia sia?   Betapa bodohnya aku, menceritakanmu dengan penuh semangat dan gairah. Bahkan kawan kawanku saja sudah cukup bosan mendengar namamu saat kusebut dalam kisah yang selalu ku ulang ulang perbaitnya. "Dia benar benar sempurna, bahkan semesta pun tak 'kan pernah bisa menandinginya.."   Aku mendambakanmu dalam deru hujan dan helaan nafas angin malam. Menatap langit dengan tanda tanya ditambah panjatan doa yang selalu sama, "Tuhan, bisakah aku memilikinya?.."   Aku khawatir akan kita yang tak selalu sama. Dengan pinta yang berbeda, dan tujuan yang tak searah. Yang kutakut...