Langsung ke konten utama

"Aku Pulang.."

Dari judulnya, terpampang jelas jika kehadiranmu kembali. Sudah lama kunantikan keajaiban Tuhan yang seperti ini. Aku selalu meminta pada-Nya agar kamulah yang menjadi tokoh utama lagi, sering kali terucap meskipun doanya terdengar lirih.

***
"Gimana kabarmu?", kisah ini dimulai saat kamu melantangkan sapaan kecilmu padaku hari itu. (Kali ini sedikit melanjai ceritanya, sedang berbunga bunganya aku mengisahkanmu). Badanku gemetar kala itu, tanganku berkeringat dan kakiku terasa beku. Aku menjawab dengan nada datar karna tak ingin kamu tahu jika aku masih menaruh harap yang besar terhadapmu.

"Baik..", jawabku. Memang singkat, tapi untuk secuil kata yang sebenarnya aku tak sedang baik baik saja perlu effort yang klimaks dalam mengucapkannya.

Aku gugup...
Aku menatapmu terus menerus, seolah olah mataku tak mampu berpaling dari nikmatnya memandangmu. Hingga hati kecilku berbisik, "Bisakah kamu kembali lagi? Aku rindu."
Haha, kasihan ya aku.
***
Pagi itu setelah semalam aku berjumpa denganmu, tanganku seakan ingin mengirim pesan singkat padamu yang berisikan "Selamat pagi, aku mencintaimu.." Kau tahu itu cukup lucu, karna jelas saja mendapatkanmu lagi adalah sesuatu yang cukup halu.

Hingga entah darimana aku kejatuhan bulan. Setelah pagi tadi aku berangan, malamnya temanmu meneleponku (pikirku dia hanya iseng atau sedang kalah taruhan) dan ternyata tepat disebelahnya ada kamu. Aku merasa semesta sedang berbaik hati kepadaku, memberikan secercah kesempatan untuk sekedar bertanya "Itu kamu sedang apa?"

Kita lanjut bicara hingga tak sadar adzan shubuh sudah berkumandang di masjid dekat rumah.

Cukup lama kita bertukar cerita, walaupun hanya bertemu via telepon saja. Bagiku, itu sudah cukup untuk mengobati rasa rinduku karna sudah lama kita tak bercengkrama.

Aku tak bisa tidur setelahnya, suaramu terngiang ngiang, dan entahlah apakah kali ini aku akan tidur sambil senyum senyum sendiri? Ahh.. aku tak peduli, yang kutahu hanya, aku tetap mencintaimu.

Aku mengucapkan "terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk berbicara denganku", kukirim itu dalam pesan singkat namun penuh harap.

Aku menunggu jawabanmu yang dimana pesanku tak kunjung kau buka kala itu. Ya, aku tahu pasti kau sedang sok sibuk dengan aktivitas harianmu (nongkrong sambil ngopi di samping gereja tua tempatmu biasanya).

Tak kuduga jawabannya "Iyaa, Nona. Dengan senang hati". Setelah kubaca, kali ini aku merasa benar benar sedang tidak baik baik saja. Serasa melampaui satelit luar angkasa, saking tingginya aku dibuat terbang oleh dia.
"Jawabanmu itu sangat ramah, Bung!" Rasanya ingin aku mengumpat dengan hati yang gembira, batinku.
***
Kuputuskan untuk membalasmu, ternyata pesan kita tak tamat sampai di situ saja,
kamu membalasnya pula.

Hari hari kulalui dengan hati yang berbunga. Segala hal kulakukan dengan semangat bahkan aku hampir tak merasakan hari sial dan hari lelah.

Cintaku padamu begitu membabi buta. Namun, belum sama sekali aku memperlihatkannya. Aku takut jika prasangkaku terhadapmu ini salah.
"Apa iya jika kamu sedang jatuh cinta (kepadaku lagi)?". Aku takut jika hanya aku yang terlalu percaya diri.
***
Aku berangan tentangmu terlalu lama. Hingga tanpa kusadari, kamu hampir sedekat nadi.
***
Seperti biasanya, aku selalu menanti pesan yang hanya kau seliri dipertengahan kegiatanmu. Namun kali ini aku sedikit tergemap membaca pesan yang kamu kirimkan.
Apa kau bercanda? Bagaimana bisa aku tak memberikan kesempatan pada malaikat yang sejak lama kuharap harapkan berkatnya?
Tentu saja, kali ini jawabanku "Iya."

***
>>>>
Ini masih berlanjut. Tapi nanti, setelah hatiku tak lagi jadi penjara bagi keresahan yang masih menjadi terdakwa di dalamnya.

Tenang saja, ini pasti akan jadi happy ending ceritanya. Semoga...

Malang, 10 Feb 2022

Postingan populer dari blog ini

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...

November Rain, Bait kedua

Aku tak tahu harus sampai berapa bagian lagi aku bercerita. Terlalu banyak yang harus kutuliskan dilembar lembar berikutnya, sama halnya dengan luka yang kuterima di November kemarin lusa. *** Lukaku belum cukup kering karenamu. Masih terekam jelas memori pedih yang pernah sengaja kamu tancapkan dalam hati. Masih terbayang traumatis lama dimana kamu memilih dia. Walau bagimu sudah kadaluwarsa, untukku luka ini masih terasa sangat basah. Aku tak ingin kamu tinggalkan. Apalagi waktu itu aku benar benar membutuhkanmu (bahkan mungkin sampai sekarang). Aku hancur melihatmu sebahagia itu bersamanya. Aku iri, yang dimana kamu selalu meninggikan kedudukannya. Sebelumnya, aku tak pernah kau jadikan ratu dalam hatimu. Apa iya dulunya aku hanya selir yang kamu junjung dengan alasan hanya kasihan saja? Tuan, aku cemburu. *** Aku tak cantik, bahkan aku tak memiliki segalanya. Tak sepunya wanita yang sedang kamu genggam erat tangannya. Pun, terkadang aku sadar, benar aku terlampau kalah jika dibandi...

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...