Ini bukan kisah yang diambil dari lagu Guns N' Roses yang biasa kau dengarkan di pojokan kamar. Aku sedang merawi cerita betapa pedihnya Novemberku kala itu.
Aku izin mengisahkanmu ya.. Kuharap kamu tak keberatan dengan permohonan sederhanaku yang jika ditimbang, tak sebanding saat aku memintamu untuk pulang.
***
Ini akan terasa sedikit sedih. Puisi puisi lama yang sudah kukubur dalam dalam, kini terpaksa harus kukeduk lagi.
"Kenapa?".
Banyak manusia yang mempertanyakan dengan alasan apa aku kembali mengingatnya.
Padahal sudah sangat gamblang jawabannya, karena
"Aku masih sangat cinta."
Sudah, aku memang selalu terdengar bodoh di telinga banyak manusia. Dengan ribuan saran dan ocehan yang kudengar, "Lupakan saja, yang lebih baik darinya masih ada!". Mungkin mereka benar.
Kamu memang bukanlah segalanya, tapi segalanya terasa indah jika kamu ada.
***
Namun...
Percuma saja ketika aku bersusah payah menggenggammu. Sekuat apapun aku menggenggam, jika yang kugenggam tak menginginkannya maka dengan bagaimanapun ia akan tetap lepas.
Sehancur hancurnya aku ada pada saat melepasmu waktu itu. Berusaha mengikhlaskan sesuatu yang sudah menjadi rutinitasku (yakni, menggenggammu).
Deru tangis yang jatuh dari mata menuju pipiku begitu deras. Kamu jelas jelas lantang meneriakkan namanya dihadapan banyak manusia dengan logat bicaramu yang sangat khas. Sedangkan kamu tahu jika diantara mereka masih ada aku yang selalu menantikan kembalimu.
"Lantas aku bagaimana?"
Banyak yang berusaha mendekatiku, dengan embel embel jika aku bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari kamu.
"Tidak." Aku masih bersih keras percaya bahwa kamu akan berbalik arah.
Bodoh memang, karna aku menanti sesuatu yang sama sekali tak memiliki tanda akan kembali. Apalagi kamu pernah berucap begini sebelum pergi
“Biarkan saja, nanti juga akan pupus pada waktunya.."
Sedihku meneriuh mendengar kamu berkata seperti itu.
Yang kurasakan kali ini adalah.. Kamu sudah berpaling hati dan kamu benar benar pergi.
Kamu menggandengnya dengan erat, yang dimana biasanya aku berada tepat di posisi perempuan itu.
Kini, dia menggantikanku
🥀
***
Aku sedikit cemas dengan kita yang ternyata telah lama kamu anggap usai ceritanya (tidak denganku, aku menganggapmu masih ada. Walau hanya bayang dan tak bisa kugenggam nyatanya).
Tak kusangka, Novemberku kacau dan penuh air mata. Yang dimana perderainya ia siratkan segala luka.
***
Pergimu memang tak pernah bisa kuterima.
Tapi tak apa..
(Kutunggu kamu pada titik temu lain waktu, disana terdapat rindu yang masih kusimpan rapih dan utuh untuk kita).
Dan untuk perempuan yang kala itu kamu bawa, semoga dendamku masih terlihat dengan elegan ya, Mba..
Malang, 11 Feb 2022