Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.
Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?".
Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah.
***
Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi.
Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.
Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.
Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang pernah kamu taburkan padaku hari itu.
Tenang, ini tak akan lama, cukup duduk manis dan luangkan waktumu yang sibuk itu untuk membaca.
Sampai mana kita tadi? Oh iya, tentang dusta dan percaya. Aku ingat kali pertama kamu berusaha agar aku tak berpaling dari pandanganmu. Kamu berusaha membuatku jatuh cinta dengan hal hal sederhana yang bisa membuatku tertawa. Dan iya, kamu berhasil mendapatkannya.
Aku sudah mencintaimu di bulan Juli lalu, tepatnya pada tanggal istimewa yang sangat aku suka.
***
Aku duduk manis diteras rumah sambil bersenandung tipis mengalunkan lagu yang pernah kita putar bersama, dan dengan kebodohan kecilku yang kuharap kamu bisa mendengarnya, pula.
***
Hari, bulan bahkan tahun kita lewati. Aku menganggap kita mampu melaluinya seiringan dan seirama. Hingga akhirnya aku tersadar, aku lengah saat mencinta. Aku terlalu terbawa alunan canda yang disetiap katanya seolah olah aku tiada duanya.
Aku lupa, itu hanya canda.
Kau tahu?
Aku sedikit cemburu saat sekilas aku melihatmu bercanda dengan kawan wanitamu di sore itu. Kamu tertawa lebih leluasa ketika bersamanya, berbeda dengan keadaan saat kamu dihadapanku, kamu lebih banyak membisu.
"Dia hanya kawannya..", tepis otakku agar hatiku sedikit lebih tenang.
Aku berusaha menyangkal perasaan tak enak dalam hati. Kusurutkan overthinking yang berlebihan karna juga tak cukup baik untuk kesehatan dan pikiran.
Nyatanya aku terlampau jauh darimu, aku terlalu membebaskanmu berkeliaran dengan kepercayaan yang sepenuhnya kubebankan.
Entah angin apa yang teganya meniup segala percaya yang tadinya sedang kamu bawa? Dan dengan teganya kamu memberikan mawar pada wanita yang sedangkan aku disini bersusah payah menuainya untukmu hingga berdarah.
Kau berpaling dariku,
dan kamu mengabaikanku karenanya.
Aku sudah banyak mencoba, berusaha menarikmu kembali agar kamu tetap berdiri bersamaku disini.
Namun hasilnya.. Semua sia sia.
Kau memilih dia, dan tak lagi pulang ke rumah.
Dan karena hilangnya dirimu, kali ini Septemberku kelabu..
Malang, 10 Feb 2022