Langsung ke konten utama

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.
  Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?".
Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah.
***
  Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi.
  Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah. 
Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.

  Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang pernah kamu taburkan padaku hari itu. 
Tenang, ini tak akan lama, cukup duduk manis dan luangkan waktumu yang sibuk itu untuk membaca.

  Sampai mana kita tadi? Oh iya, tentang dusta dan percaya. Aku ingat kali pertama kamu berusaha agar aku tak berpaling dari pandanganmu. Kamu berusaha membuatku jatuh cinta dengan hal hal sederhana yang bisa membuatku tertawa. Dan iya, kamu berhasil mendapatkannya.
  Aku sudah mencintaimu di bulan Juli lalu, tepatnya pada tanggal istimewa yang sangat aku suka. 
***
  Aku duduk manis diteras rumah sambil bersenandung tipis mengalunkan lagu yang pernah kita putar bersama, dan dengan kebodohan kecilku yang kuharap kamu bisa mendengarnya, pula.
***
  Hari, bulan bahkan tahun kita lewati. Aku menganggap kita mampu melaluinya seiringan dan seirama. Hingga akhirnya aku tersadar, aku lengah saat mencinta. Aku terlalu terbawa alunan canda yang disetiap katanya seolah olah aku tiada duanya.
Aku lupa, itu hanya canda.

  Kau tahu?
Aku sedikit cemburu saat sekilas aku melihatmu bercanda dengan kawan wanitamu di sore itu. Kamu tertawa lebih leluasa ketika bersamanya, berbeda dengan keadaan saat kamu dihadapanku, kamu lebih banyak membisu.
  "Dia hanya kawannya..", tepis otakku agar hatiku sedikit lebih tenang.
Aku berusaha menyangkal perasaan tak enak dalam hati. Kusurutkan overthinking yang berlebihan karna juga tak cukup baik untuk kesehatan dan pikiran.
  Nyatanya aku terlampau jauh darimu, aku terlalu membebaskanmu berkeliaran dengan kepercayaan yang sepenuhnya kubebankan.
  Entah angin apa yang teganya meniup segala percaya yang tadinya sedang kamu bawa? Dan dengan teganya kamu memberikan mawar pada wanita yang sedangkan aku disini bersusah payah menuainya untukmu hingga berdarah.

Kau berpaling dariku,
dan kamu mengabaikanku karenanya.

  Aku sudah banyak mencoba, berusaha menarikmu kembali agar kamu tetap berdiri bersamaku disini.
Namun hasilnya.. Semua sia sia.

Kau memilih dia, dan tak lagi pulang ke rumah.
  Dan karena hilangnya dirimu, kali ini Septemberku kelabu..

Malang, 10 Feb 2022

Postingan populer dari blog ini

November Rain, Bait kedua

Aku tak tahu harus sampai berapa bagian lagi aku bercerita. Terlalu banyak yang harus kutuliskan dilembar lembar berikutnya, sama halnya dengan luka yang kuterima di November kemarin lusa. *** Lukaku belum cukup kering karenamu. Masih terekam jelas memori pedih yang pernah sengaja kamu tancapkan dalam hati. Masih terbayang traumatis lama dimana kamu memilih dia. Walau bagimu sudah kadaluwarsa, untukku luka ini masih terasa sangat basah. Aku tak ingin kamu tinggalkan. Apalagi waktu itu aku benar benar membutuhkanmu (bahkan mungkin sampai sekarang). Aku hancur melihatmu sebahagia itu bersamanya. Aku iri, yang dimana kamu selalu meninggikan kedudukannya. Sebelumnya, aku tak pernah kau jadikan ratu dalam hatimu. Apa iya dulunya aku hanya selir yang kamu junjung dengan alasan hanya kasihan saja? Tuan, aku cemburu. *** Aku tak cantik, bahkan aku tak memiliki segalanya. Tak sepunya wanita yang sedang kamu genggam erat tangannya. Pun, terkadang aku sadar, benar aku terlampau kalah jika dibandi...

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...