Langsung ke konten utama

Judulnya, Lama Tak Bersua

***
Selamat pagi, Embun..
Maaf terlalu manis, kerana aku sedang berada pada puncak cinta cintanya. Jangan tanya aku sedang kasmaran pada siapa. Jelasnya, ia lelaki yang pernah jadi incaranku waktu masih dalam pangkuan ibu, bocah kelas 6 SD yang masih ingusan, nyatanya kala itu tengah merasakan jatuh cinta yang hingga kini masih bersemi. Yaa, aku masih duduk dibangku SMA kelas 10. Masih sangat muda dan belia.
***
Kembali pada topik embun, aku hanya sedang ingin memberi tahumu, Manis. Maaf, kerana tak lagi sehangat dulu, kita terlampau lama tak bersua. Aku sedang sibuk merangkai cita dibangku sekolah, hingga tak cukup memiliki waktu untuk lagi merawi kisah. Kuniatkan untuk bisa tetap berjabat kasih denganmu. Namun, maaf jika tak lagi berjabat lewat runtutan paragraf yang tercipta sebuah cerita. Kali ini, kulewatkan puisi puisi mungil yang sering terlintas di benakku saja yaa. Inti dan isinya akan tetap sama, karna ia tetap tersampaikan dengan lantunan kata dan kalimat yang indah.

Terimakasih telah memaklumi.
Terimakasih telah mengerti.
***
Kita akan tetap utuh. Kiranya hancur, kita akan lebur, bersama cercahan indah dari kata dan tutur.

Salam cinta dariku.
Untukmu, Embun manisku.


Malang, 19 Mei 2022

Postingan populer dari blog ini

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...

November Rain, Bait kedua

Aku tak tahu harus sampai berapa bagian lagi aku bercerita. Terlalu banyak yang harus kutuliskan dilembar lembar berikutnya, sama halnya dengan luka yang kuterima di November kemarin lusa. *** Lukaku belum cukup kering karenamu. Masih terekam jelas memori pedih yang pernah sengaja kamu tancapkan dalam hati. Masih terbayang traumatis lama dimana kamu memilih dia. Walau bagimu sudah kadaluwarsa, untukku luka ini masih terasa sangat basah. Aku tak ingin kamu tinggalkan. Apalagi waktu itu aku benar benar membutuhkanmu (bahkan mungkin sampai sekarang). Aku hancur melihatmu sebahagia itu bersamanya. Aku iri, yang dimana kamu selalu meninggikan kedudukannya. Sebelumnya, aku tak pernah kau jadikan ratu dalam hatimu. Apa iya dulunya aku hanya selir yang kamu junjung dengan alasan hanya kasihan saja? Tuan, aku cemburu. *** Aku tak cantik, bahkan aku tak memiliki segalanya. Tak sepunya wanita yang sedang kamu genggam erat tangannya. Pun, terkadang aku sadar, benar aku terlampau kalah jika dibandi...

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...