Langsung ke konten utama

“Glimpse of Us..”

   Sehancur apa aku? Seremuk apa diriku? Bahkan kamu saja tak tahu bagaimana rasanya aku disaat dan setelah apa yang kamu lakukan. Lalu, kamu berusaha membuatku reda dalam derunya luka.

   Mungkin rasanya tak akan sesesak ini, jika aku tak pernah tahu betapa besar perjuangan yang kamu kerahkan untuk dia.
Kuharap kamu tak pernah berniat menggunakan rasa cintaku untuk melupakan manusia lama yang pernah kamu punya.
***
  Apa aku harus percaya ketika bibirmu bicara jika aku adalah yang paling sempurna? Namun ketahuilah, Sayang. Yang kamu rasa sempurna bahkan tak bisa mengganti apa yang saat ini masih kamu pikiri.

   Rasa yang kutanam padamu adalah nyata. Bahkan saat aku tahu jika cintamu untukku hanyalah fana semata. Pernah sesaat ketika kamu bersamaku, di beberapa waktu, aku menyadari jika dirimu sedang merasa biru. Mungkin kamu terasa ragu, tetapi kamu menyangkal apa yang aku ucapkan. “Sudah, aku tak apa-apa, Sayang.”
Aku mendekapmu ke dalam pelukanku, lantaran ingin meredam gundah dan sedih yang kamu rasa.
Nyatanya, yang terlihat jelas adalah,
Kamu menatapku, namun kamu sedang melihatnya, dalam kedua mata yang kupunya.
Aku mengerti, sulit melupakan hal indah yang paling dicinta. Namun, bagaimana denganku yang memeluk dan menemanimu membalut biru sepanjang waktu?
Apa benar saat aku memberimu pelukan, kamu sedang mencari dan melihat sekilas tentang masa-masa yang dimana kalian masih bersama?

>>>>>
“Glimpse of Us..”
Aku merasakan jika,
Dirinya adalah manusia yang paling kamu damba.
Jika menurutmu, aku sudah begitu sempurna,
Namun, tetap dia yang jadi pemenangnya.
Rasamu untuknya belum mati,
Mungkin bagimu, ia takkan pernah terganti.


Malang, 16 Juni 2022

Postingan populer dari blog ini

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...

Lebih dari Kesempatan yang Kujanjikan

Usahaku menenggelamkan sakit dan meredam amarah karena sebab yang sama adalah hal yang paling kubenci akhir-akhir ini. Aku tak bermaksud membuatmu patah disaat kuterus terangkan pedih yang tengah kurasa. Kecemburuan yang timbul dariku, merupakan hal yang dirasakan seluruh wanita di dunia, ketika melihat seseorang yang mereka cinta bermesra dengan lain wanita. Seakan meletakkan trauma yang dalam di hati, saat kamu berjumpa dengan wanita itu, terbakar sudah api cemburuku. Sakit. Sesak. Batinku memberontak. Tanganku menengadah memohon pada-Nya, agar aku bisa mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa kuubah . Kesempatan itu telah habis bersama luput kesalahanmu. Seolah tak peduli atas perih yang kamu beri. "Manusia tidak akan pernah mengerti jika tidak mengalami", saat ini aku begitu percaya akan kata mereka. Kupikir dengan kujelaskan dan kuperinci penyebab aku sakit hati akan membuatmu paham dan merubah tindakan yang kamu lakukan. Tidak. Ternyata tetap kau lanjutk...