Sehancur apa aku? Seremuk apa diriku? Bahkan kamu saja tak tahu bagaimana rasanya aku disaat dan setelah apa yang kamu lakukan. Lalu, kamu berusaha membuatku reda dalam derunya luka.
Mungkin rasanya tak akan sesesak ini, jika aku tak pernah tahu betapa besar perjuangan yang kamu kerahkan untuk dia.
Kuharap kamu tak pernah berniat menggunakan rasa cintaku untuk melupakan manusia lama yang pernah kamu punya.
***
Apa aku harus percaya ketika bibirmu bicara jika aku adalah yang paling sempurna? Namun ketahuilah, Sayang. Yang kamu rasa sempurna bahkan tak bisa mengganti apa yang saat ini masih kamu pikiri.
Rasa yang kutanam padamu adalah nyata. Bahkan saat aku tahu jika cintamu untukku hanyalah fana semata. Pernah sesaat ketika kamu bersamaku, di beberapa waktu, aku menyadari jika dirimu sedang merasa biru. Mungkin kamu terasa ragu, tetapi kamu menyangkal apa yang aku ucapkan. “Sudah, aku tak apa-apa, Sayang.”
Aku mendekapmu ke dalam pelukanku, lantaran ingin meredam gundah dan sedih yang kamu rasa.
Nyatanya, yang terlihat jelas adalah,
Kamu menatapku, namun kamu sedang melihatnya, dalam kedua mata yang kupunya.
Aku mengerti, sulit melupakan hal indah yang paling dicinta. Namun, bagaimana denganku yang memeluk dan menemanimu membalut biru sepanjang waktu?
Apa benar saat aku memberimu pelukan, kamu sedang mencari dan melihat sekilas tentang masa-masa yang dimana kalian masih bersama?
>>>>>
“Glimpse of Us..”
Aku merasakan jika,
Dirinya adalah manusia yang paling kamu damba.
Jika menurutmu, aku sudah begitu sempurna,
Namun, tetap dia yang jadi pemenangnya.
Rasamu untuknya belum mati,
Mungkin bagimu, ia takkan pernah terganti.
Malang, 16 Juni 2022