Aku tak sedang terluka karna sikapnya padaku. Aku hanya sedang mengingat bayangan bangsat yang masih melekat dan selalu menghantuiku.
Hal-hal sedih yang tiap goresnya menyetel ulang segala duka di masa lama. Jika sudah seperti, aku harus bagaimana? Menghindar? Sudah selalu kucoba. Ikhlas? Bahkan acap kali berusaha lupa saja aku tak bisa, lalu bagaimana aku bisa mengikhlaskan yang sudah-sudah?
***
Lelucon lama kita, obrolan jenaka, bahkan hal konyol yang kita lakukan bersama rasanya masih melekat menjadi satu dengan bayangan biru wanitamu kala itu.
Tuan, aku benci wanita itu, hingga sekarang.
Kau memilihnya, lalu pergi dariku seakan-akan aku ini baik-baik saja jika kau tinggalkan.
>>>>
Mba, kita memang tak pernah bertemu sebelumnya.
Sebelum ini, sebelum kau mengambil hati lelaki yang sampai saat ini masih kucintai, aku menganggap jika kamu adalah wanita anggun, jelita nan baik hatinya.
Namun, sudah begini adanya. Terlanjur seperti ini keadaannya. Tak ada kata maaf darimu. Bukan karna aku mengemis hormat, tapi seakan-akan kau tak punya sopan mengambil sesuatu yang sudah berkepunyaan tanpa kaliman. Semoga, kau tak lagi dianggap rendah di lain mata.
Malang, 10 Juni 2022