Langsung ke konten utama

Hati yang tertatih

  Aku tak sedang terluka karna sikapnya padaku. Aku hanya sedang mengingat bayangan bangsat yang masih melekat dan selalu menghantuiku.
Hal-hal sedih yang tiap goresnya menyetel ulang segala duka di masa lama. Jika sudah seperti, aku harus bagaimana? Menghindar? Sudah selalu kucoba. Ikhlas? Bahkan acap kali berusaha lupa saja aku tak bisa, lalu bagaimana aku bisa mengikhlaskan yang sudah-sudah?
***
  Lelucon lama kita, obrolan jenaka, bahkan hal konyol yang kita lakukan bersama rasanya masih melekat menjadi satu dengan bayangan biru wanitamu kala itu.
Tuan, aku benci wanita itu, hingga sekarang.
Kau memilihnya, lalu pergi dariku seakan-akan aku ini baik-baik saja jika kau tinggalkan.

>>>>
Mba, kita memang tak pernah bertemu sebelumnya.
Sebelum ini, sebelum kau mengambil hati lelaki yang sampai saat ini masih kucintai, aku menganggap jika kamu adalah wanita anggun, jelita nan baik hatinya.
Namun, sudah begini adanya. Terlanjur seperti ini keadaannya. Tak ada kata maaf darimu. Bukan karna aku mengemis hormat, tapi seakan-akan kau tak punya sopan mengambil sesuatu yang sudah berkepunyaan tanpa kaliman. Semoga, kau tak lagi dianggap rendah di lain mata.


Malang, 10 Juni 2022

Postingan populer dari blog ini

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...

Lebih dari Kesempatan yang Kujanjikan

Usahaku menenggelamkan sakit dan meredam amarah karena sebab yang sama adalah hal yang paling kubenci akhir-akhir ini. Aku tak bermaksud membuatmu patah disaat kuterus terangkan pedih yang tengah kurasa. Kecemburuan yang timbul dariku, merupakan hal yang dirasakan seluruh wanita di dunia, ketika melihat seseorang yang mereka cinta bermesra dengan lain wanita. Seakan meletakkan trauma yang dalam di hati, saat kamu berjumpa dengan wanita itu, terbakar sudah api cemburuku. Sakit. Sesak. Batinku memberontak. Tanganku menengadah memohon pada-Nya, agar aku bisa mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa kuubah . Kesempatan itu telah habis bersama luput kesalahanmu. Seolah tak peduli atas perih yang kamu beri. "Manusia tidak akan pernah mengerti jika tidak mengalami", saat ini aku begitu percaya akan kata mereka. Kupikir dengan kujelaskan dan kuperinci penyebab aku sakit hati akan membuatmu paham dan merubah tindakan yang kamu lakukan. Tidak. Ternyata tetap kau lanjutk...