“Rumah tanpa bangunan yang pernah saya dirikan untuk kamu pulang, ternyata lebih kokoh dari tembok cina.
Walau kokoh, sayangnya usang. Karna saya tak lagi mampu melukis bahagia di dalamnya. Kamu tak lagi ada dalam ruang bahagia yang saya punya. Ruang hidup yang lalu pernah ditempati, sekarang terasa hampa dan mati.”
***
Pamitmu yang lalu ternyata menggiringmu kepada pergi tanpa kembali. Dan aku yang masih menanti hingga saat ini tak pernah tahu kemana beranjaknya kamu pergi.
Jika kamu masih menyimpan alamat lama rumah ini, baca ulang dan carilah lagi. Tak pernah berubah, tak akan berganti. Alamatnya masih sama dan rasa yang ada di dalamnya terjamin rapih di setiap pojokan ruang yang pernah kita singgahi. Dinding rumah kita jadi saksinya. Setiap sisi ruangnya merekam segala hal yang pernah kita lakukan.
Tuan, jangan lupa pulang yaa. Pergimu tak pernah kuharapkan, namun kembalimu masih menjadi angan-anganku hingga sekarang.
Malang, 22 Maret 2022