Langsung ke konten utama

Tepat hari ini

Aku menemukan sesuatu mengganjal yang tak seharusnya kubuka. Memang kadang Tuhan selalu membukakan jalan agar aku tahu bagaimana kebenarannya.
***
Kutemukan itu dan kutulis ini, tepat hari ini. Dimana aku membuka hal yang bisa dibilang sangat privasi yang kamu sembunyikan dan kamu kunci dengan rapih. Mungkin saja niatmu baik agar kamu tak membuat aku sakit hati ketika aku melihatnya. Tapi jauh dalam hati kecilku aku bertanya, "Jika kamu saat ini bersamaku, lalu untuk apa kamu masih mengingat dan menyimpannya? Dan untuk apa kamu masih menata rapih segala kenangannya?".
:)
Namun, jika memang kamu belum selesai, selesaikan dulu urusanmu dengan wanitamu. Urusan "aku" biarkan kupecahkan sendiri karna sudah kubilang untuk urusan cinta dan sakit hati, aku telampau jauh darimu lebih mandiri. Jika masih tersisa cinta untuk dia, kembalilah.

Cukup tahu apa yang sedang kamu pikirkan di beberapa waktu saat kamu berjalan bersamaku. Tatapanmu kosong seolah olah kamu memberi tanda jika kamu ini sedang sangat gundah (saat memilah antara aku atau dia).

Sayang.. Bukan aku tak percaya, namun jika kamu masih menyimpan segala rasa untuknya, maka kembalilah dan selesaikan semua dengannya. Jika kamu merasa telah usai, maka aku tetap berdiri disini menantimu dengan hati yang sedikit lecet dan air mata yang berderai.

Ketahuilah;
Aku mencintaimu, sepenuhnya.
Ini yang terdalam dari hatiku. Cuma satu, hanya kamu.

Malang, 3 Maret '22

Postingan populer dari blog ini

September Kelabu

  Yaa, kita berjumpa lagi dan aku tetap menuliskan kisah tentangmu hari ini. Ini bisa terbilang masih pagi, tapi tatapan kosongku selalu mengingat jelas bagaimana raut wajahmu.   Jelasnya aku masih bertanya tanya, "Mengapa kamu selalu datang ketika aku berusaha lupa?". Sebenarnya aku mengerti jawaban atas apa yang sudah aku tanyakan, itu karena kamu terlalu indah . ***   Juli lalu kamu berkata seolah olah kamu ingin aku kembali. Tanpa pikir panjang, aku berusaha mengambil apa yang sebelumnya kau khianati. Kuputar otakku 180 derajat untuk percaya bahwa kamu mampu memperbaiki. Namun nyatanya? Ironi .   Yaa, ini aku yang selalu saja luluh dihadapanmu, bersikap seolah olah tak terjadi apa apa, padahal yang kamu ucapkan hanyalah penenang semata agar aku tak gundah.  Bahkan untuk seribu kali kamu mengucap kalimat dusta yang sama, aku pun tetap percaya.   Kuharap kamu masih mau membaca sedikit cerita tentangmu yang kutulis lengkap dengan pemanis yang p...

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...

Lebih dari Kesempatan yang Kujanjikan

Usahaku menenggelamkan sakit dan meredam amarah karena sebab yang sama adalah hal yang paling kubenci akhir-akhir ini. Aku tak bermaksud membuatmu patah disaat kuterus terangkan pedih yang tengah kurasa. Kecemburuan yang timbul dariku, merupakan hal yang dirasakan seluruh wanita di dunia, ketika melihat seseorang yang mereka cinta bermesra dengan lain wanita. Seakan meletakkan trauma yang dalam di hati, saat kamu berjumpa dengan wanita itu, terbakar sudah api cemburuku. Sakit. Sesak. Batinku memberontak. Tanganku menengadah memohon pada-Nya, agar aku bisa mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa kuubah . Kesempatan itu telah habis bersama luput kesalahanmu. Seolah tak peduli atas perih yang kamu beri. "Manusia tidak akan pernah mengerti jika tidak mengalami", saat ini aku begitu percaya akan kata mereka. Kupikir dengan kujelaskan dan kuperinci penyebab aku sakit hati akan membuatmu paham dan merubah tindakan yang kamu lakukan. Tidak. Ternyata tetap kau lanjutk...