Langsung ke konten utama

Postingan

Perih. Rasanya seperti dibunuh tapi tak mati. (part hancur sejenak)

Menjengkelkan bukan? Jika ditempatkan pada situasi yang teramat sangat bangsat. Dimana kita dipaksa untuk terus menerus mempercayai hal yang sebenarnya kita paham betul, jika semuanya hanya mengada-ada. Aku mengalah. Sangat mengalah. Mengesampingkan diriku sendiri demi mereka yang senantiasa kamu sanjung dan kamu bangga-banggakan keberadaannya. Aku memaklumi. Memaklumi sekali. Tapak kilas yang pernah kamu perbuat kemudian terulang sebagai hal baru, dengan tema yang sama-sama mengandung pilu untukku. Aku ikhlas. Tapi Tuhan tahu, jika ikhlas adalah hal paling sulit bagiku. Membiarkanmu berkeliaran sekali lagi dengan membawa percayaku, yang ujung-ujungnya kamu rusak kembali. Aku memaafkanmu. Sungguh dengan seribu pintu yang senantiasa terbuka untuk segala ketidaktepatan yang kerapkali kamu lakukan. *** Sayangg.. Maaf untuk tidak adanya kesempatan yang kubuka ulang untukmu di waktu-waktu mendatang. 3 kesempatan yang kamu punya sudah terlewatkan, seluruhnya. Kali ini, adalah kali terakhirny...

Lebih dari Kesempatan yang Kujanjikan

Usahaku menenggelamkan sakit dan meredam amarah karena sebab yang sama adalah hal yang paling kubenci akhir-akhir ini. Aku tak bermaksud membuatmu patah disaat kuterus terangkan pedih yang tengah kurasa. Kecemburuan yang timbul dariku, merupakan hal yang dirasakan seluruh wanita di dunia, ketika melihat seseorang yang mereka cinta bermesra dengan lain wanita. Seakan meletakkan trauma yang dalam di hati, saat kamu berjumpa dengan wanita itu, terbakar sudah api cemburuku. Sakit. Sesak. Batinku memberontak. Tanganku menengadah memohon pada-Nya, agar aku bisa mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa kuubah . Kesempatan itu telah habis bersama luput kesalahanmu. Seolah tak peduli atas perih yang kamu beri. "Manusia tidak akan pernah mengerti jika tidak mengalami", saat ini aku begitu percaya akan kata mereka. Kupikir dengan kujelaskan dan kuperinci penyebab aku sakit hati akan membuatmu paham dan merubah tindakan yang kamu lakukan. Tidak. Ternyata tetap kau lanjutk...

Ini terlalu singkat untuk Selamanya yang terlalu lama

Apa kata cinta perlu diucapkan? Bahkan meski tak sejalan dan tak sealur saja, kita sudah sejauh ini bertahan. Lelah, iya. Namun bila menuruti egois, jangankan aku, orang disekitarpun ikut terluka atas kita. Mari berdoa bersama-sama. Melambungkan hal-hal baik kepada sang pemilik semesta. Menengadahkan tangan dan menunduk sembari meminta semesta agar supaya memberkati kita, menggiring kita untuk ber-iring berdua, merawat kasih sayang yang telah kita pupuk bersama, menjaga cinta yang dahulunya pernah diusahakan mati-matian, meminta agar senantiasa selalu di-pergandeng-kan tangan. Meskipun 'selamanya' itu terlalu lama.

Susah Payahku

Berawal dari aku menemukanmu, yang hanya sebesar biji sawi. Yang kemudian aku merawatnya setiap hari dengan penuh cinta, memupuk dan menyiramimu dengan cinta seutuhnya. Hingga kau beranjak tumbuh dengan cantiknya. Sial. Aku yang merawat, orang lainlah yang mendapat. Bergerak mencari pengganti, tetapi sulit menemukan benih sepertimu lagi. Mencari kemanapun tak ada yang sama, bahkan tak ada yang 'hampir' pula. Kau dinikmati, hingga nyaris mati. Ketika kau usang, naas dibuang kemudian. Sangat ironi, melihatmu kembali dengan tubuh patah dan luka. Aku mencoba menumbuhkan dan memulihkanmu kembali. Memulai lagi, dari awal lagi, berusaha lagi, sekali lagi. Dan, tak semudah yang terlihat. Banyak khawatir setelahnya, mencoba percaya jika ini tak akan gagal seperti sebelumnya. Aku takut kau hilang untuk kedua kalinya. Niat hati ingin memagarimu rapat-rapat, tapi takut jika kau tak tumbuh bersamaku dengan sehat. Serba salah. Kucoba memupukmu lagi. Mencoba kembali, dengan trauma kehilangan,...

Tepat kala ketika kepergian itu terjadi

Hingga tepat dimana apa yang kutakutkan terjadi. Di penghujung malam, sebelum kau melayangkan lambaian. Pelukanmulah yang terakhir kali mengucapkan selamat tinggal. Setiap sekon menghantarkanmu pada kepergian. Aku yang tertinggal menaburkan begitu banyak benih lara. Menghujani tempat dimana kita harus berpisah. Kenyataannya begitu pahit. Untuk sekedar mengelak saja, begitu tak berdaya. Kemudian hanya kilasan bayang yang tersisa. Melihat punggungmu semakin menjauh, menggiringku kepada dunia yang semakin abu-abu. Akankah kau memaafkanku, jika aku masih. Masih menanti kepulanganmu. Ke-pelukanku sekali lagi?

Maaf, aku sudah menuntut sesuatu yang tidak mungkin..

bagaimana tak sesakit ini? aku mencoba membangun percaya sekali lagi, dengan tujuan memberi satu kesempatan yang kurasa perlu untuk kuberikan kepadamu. kupikir kamu mau -dan mampu memperbaiki. naas kemudian. hari ini, berat sudah kecewaku. aku yang selalu saja memberimu maaf, melupakan yang telah kamu lakukan, kini beralih menjadi "kita lihat saja nanti". maaf sayang. aku yang salah, terlalu membebaskanmu pun nyatanya tak sebaik yang kukira. membiarkanmu berkeliaran sesuka hati dengan membawa segala percaya yang aku beri ternyata malah jadi sakit hati yang seperih ini. maaf, jika nyatanya aku bisa kecewa. sekecewa ini. kuharap aku tak jera padamu. disini kita, bersama-sama, meski memulai awal untuk belajar berjalan kembali, dengan menggunakan kaki pincang karna cedera yang kamu sebabkan. tak apa. mari berusaha membangun percaya ini lagi. aku masih denganmu. disini.

Terimakasih, Semesta.

Sungguh, aku cinta, dan aku jatuh di dalamnya. Makin kesini, serasa semakin ingin mempererat genggaman tanganku kepadamu. "Kau ini seistimewa apasih?" Sering kali terbesit tanya, mantra apa yang kau gunakan sehingga mampu merebut seluruh hatiku. *** Menatapmu setengah hari, satu hari, berhari-hari bahkan setiap hari tak pernah sekalipun aku merasa bosan (karna kau sama sekali tak membosankan). *** "How beautiful you are from where I'm standing.." Kau layaknya lirik lagu milik Shawn Mendes, yaa,  seindah itu dirimu. Menjadi pemilik atas dirimu merupakan kebahagiaan paling bahagia setelahnya. Penantian paling terdamba, mimpi yang paling teringin, angan yang paling tertunggu. Tersampaikan juga akhirnya. Lega sudah.

Memasung Cinta

  Bertahun-tahun aku mencari, "Dimana kamu sembunyikan cinta yang aku pinta? ".   Kuletakkan harap di bawah mimpiku bersamamu. Melekatkan cinta pada hati, yang melayang di atas bayang-bayang kita.   Masih, masih ada cinta yang tengah meraja, berusaha menjamah 'nyata' pada sebuah harap yang terselip dalam ucapan, "Aku menyayangimu. Sangat." ***   Hingga akhirnya tumbuhlah hal paling nyata yang mungkin saja memang berhak kuterima sebagai upah.  “Yaa, benih kecewa.”   Berharap jika cintamu adalah bayaran dari segala upaya yang telah kuusahakan.   "Boleh aku lelah?"   Aku merasa sudah berluap akan usaha dan jerih payah, namun hasilnya, bahkan sebijipun tak berbuah.   Kuputuskan untuk tak lagi mengejar apapun darimu. Kututup cerita ini. Kuhentikan hati yang tengah berlari, kupasungkan cintaku agar tak lagi tumbuh bersama seluruh harapku padamu.   ' Berhenti'.   Tak lagi aku mencari pintas. Bahkan untuk sekali lagi mencoba,  "Sudah. ...

Us

Sayang.. Kita mulai ini bersama. Seumur hidup bersama. Seumur hidup, Yang bukan dijalani dengan merasa 'lama banget'. Namun, Seumur hidup yang terus dinanti. Karena ada pembelajaran hidup, yang membuat masing-masing kita terus bertumbuh menjadi diri & pasangan yang lebih baik setiap harinya. Seumur hidup, Yang mampu dijalani dengan menerima apa adanya, namun sekaligus mampu mengingatkan satu sama lain, agar kita berdua mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Seumur hidup, Yang dijalani dengan terus belajar berkomunikasi. Sampai menemukan 'cara' yang pas, sesuai dengan kita berdua. Sampai kamu yang tadinya kesulitan mengutarakan perasaan, dan aku yang meledak ledak, bisa saling berkomunikasi secara sehat. Sayang, Terimakasih untuk setiap hari baik yang telah kita lewati. Terimakasih kerana telah mencoba, Berusaha selalu ada dan selalu mengerti segala situasi. Perlahan, Tapi pasti, Karena kita berkembang, Serta saling memperbaiki. 🌻 Isnalee , Malang, 26 July 2022

“Glimpse of Us..”

   Sehancur apa aku? Seremuk apa diriku? Bahkan kamu saja tak tahu bagaimana rasanya aku disaat dan setelah apa yang kamu lakukan. Lalu, kamu berusaha membuatku reda dalam derunya luka.    Mungkin rasanya tak akan sesesak ini, jika aku tak pernah tahu betapa besar perjuangan yang kamu kerahkan untuk dia. Kuharap kamu tak pernah berniat menggunakan rasa cintaku untuk melupakan manusia lama yang pernah kamu punya. ***   Apa aku harus percaya ketika bibirmu bicara jika aku adalah yang paling sempurna? Namun ketahuilah, Sayang. Yang kamu rasa sempurna bahkan tak bisa mengganti apa yang saat ini masih kamu pikiri.    Rasa yang kutanam padamu adalah nyata. Bahkan saat aku tahu jika cintamu untukku hanyalah fana semata. Pernah sesaat ketika kamu bersamaku, di beberapa waktu, aku menyadari jika dirimu sedang merasa biru. Mungkin kamu terasa ragu, tetapi kamu menyangkal apa yang aku ucapkan. “Sudah, aku tak apa-apa, Sayang.” Aku mendekapmu ke dalam pelukanku, l...

Hati yang tertatih

  Aku tak sedang terluka karna sikapnya padaku. Aku hanya sedang mengingat bayangan bangsat yang masih melekat dan selalu menghantuiku. Hal-hal sedih yang tiap goresnya menyetel ulang segala duka di masa lama. Jika sudah seperti, aku harus bagaimana? Menghindar? Sudah selalu kucoba. Ikhlas? Bahkan acap kali berusaha lupa saja aku tak bisa, lalu bagaimana aku bisa mengikhlaskan yang sudah-sudah? ***   Lelucon lama kita, obrolan jenaka, bahkan hal konyol yang kita lakukan bersama rasanya masih melekat menjadi satu dengan bayangan biru wanitamu kala itu. Tuan, aku benci wanita itu, hingga sekarang. Kau memilihnya, lalu pergi dariku seakan-akan aku ini baik-baik saja jika kau tinggalkan. >>>> Mba, kita memang tak pernah bertemu sebelumnya. Sebelum ini, sebelum kau mengambil hati lelaki yang sampai saat ini masih kucintai, aku menganggap jika kamu adalah wanita anggun, jelita nan baik hatinya. Namun, sudah begini adanya. Terlanjur seperti ini keadaannya. Tak ada kata ma...

Kau cari bahagia yang seperti apa?

  Hanya karena hati ini selalu terbuka, tak berarti kita bebas keluar masuk mengacak-acak isi di dalamnya bukan? Dan jika obrolan kita searah dariku saja, keadaan sikapmu yang membuatku semakin lama semakin lelah, apa mungkin ini saatnya aku mundur dan menyerah? ***   Bukan hijau rumput tetangga yang salah. Namun, sudahkah kau lihat bagaimana caramu memandang dan menafsirkan seseorang?    Sebenarnya aku sangat ingin bertahan diantara dekap peluk hangatmu. Pun, aku masih sangat ingin menggenggam erat jari indah yang kau punya. Tidak melepas maupun menggenggam. Kita hanya menunggu waktu pasti kapan benar-benar disatukan, kapan benar-benar dipisahkan. Tapi nihil jika kau dan aku selalu kuusahakan menjadi kita. Bahkan saat kau bersamaku saja, terlihat jelas jika kau tak sedang merasakan bahagia.   Jika denganku kau tak merasakan secuil bahagia, lalu kau ini sedang mencari bahagia yang seperti apa? >>>> Takut melihatmu terluka, tapi tidak memiliki hak unt...

Semoga baik-baik saja..

Datangnya, merubah seluruh hidup yang aku punya. Merubah keseharian yang kulakukan. Membuatku merasakan suatu hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya. (4-6-22) Sayang, kuharap kita mampu bertahan. Saling menggenggam dan tetap memeluk harapan yang masing-masing kita simpan. Sayang.. Bahkan acap kali, Hingga pelukan terakhir yang kau layangkan sebelum kau berpamit, Aku masih saja percaya, Bahwa perjumpaan dan baik-baik saja adalah milik kita. Semoga, Yaa. Isnalee, Malang, 10 Juni 2022

Puisiku lebur bersama cercahan hati yang pecah

Mengapa aku terpanah dalam ketakutan yang itu itu saja? Apa aku tak pernah menakutkan hal yang sama terjadi pada orang baru yang sempat ia kenali? Jelas adanya. Namun tak kusangka, ketakutan terbesarku ada pada traumatis lama. Tak apa, tenang. Ia pasti hilang, Perlahan. *** Namun, Melupakan saja tak cukup. Jika ikhlas adalah jalan terbaik, satu satunya. Artinya, segala usaha yang terkerah hanya percuma. Karna memang benar adanya jika, “Ikhlas itu dusta, yang ada hanya terpaksa lalu terbiasa”. Isnalee_ , Malang, 10 Juni 2022

Judulnya, Lama Tak Bersua

*** Selamat pagi, Embun.. Maaf terlalu manis, kerana aku sedang berada pada puncak cinta cintanya. Jangan tanya aku sedang kasmaran pada siapa. Jelasnya, ia lelaki yang pernah jadi incaranku waktu masih dalam pangkuan ibu, bocah kelas 6 SD yang masih ingusan, nyatanya kala itu tengah merasakan jatuh cinta yang hingga kini masih bersemi. Yaa, aku masih duduk dibangku SMA kelas 10. Masih sangat muda dan belia. *** Kembali pada topik embun, aku hanya sedang ingin memberi tahumu, Manis. Maaf, kerana tak lagi sehangat dulu, kita terlampau lama tak bersua. Aku sedang sibuk merangkai cita dibangku sekolah, hingga tak cukup memiliki waktu untuk lagi merawi kisah. Kuniatkan untuk bisa tetap berjabat kasih denganmu. Namun, maaf jika tak lagi berjabat lewat runtutan paragraf yang tercipta sebuah cerita. Kali ini, kulewatkan puisi puisi mungil yang sering terlintas di benakku saja yaa. Inti dan isinya akan tetap sama, karna ia tetap tersampaikan dengan lantunan kata dan kalimat yang indah. Terimak...

Hari Ini Istimewa 🦋

“Pagi, Mas" sapaku di hari yang paling kamu tunggu tunggu. “Panjang umur ya, Sayang” lanjutan dari kata yang terucap sebelumnya. (Suatu hari nanti saat ia baru membuka mata dan aku berada tepat di depannya) *** Hai, manusia favoritku! Selamat ya, kamu hari ini menang dan mendapatkan hadiah. Mau pilih hadiah apa? Mau celana, kaos, jam tangan atau aku aja? *** Hari ini istimewa ya?! Kamu bertambah tua, kamu lebih dulu beranjak menuju dewasa. Banyak harapan untukmu, Mas. Semoga hal hal baik selalu mengiringi jalanmu menuju bulan (katamu, kamu mau jadi astronot). Selalu ucapkan rasa syukur karena pedihmu tak lebih banyak dari nikmat yang telah kamu dapat. Doa doa indah selalu terlantun bersama hal hal yang kamu impikan, pintu pintu jawaban terbuka lebar untuk menjelaskan seluruh pertanyaan yang kamu tegaskan. Dan juga manusia manusia yang menyayangimu lebih dari yang kamu tahu. Lalu, aku disini hadir untuk melengkapi hal rumpang yang belum mampu kamu tambal. Ku ucapkan lagi, “Selama...

Rumah Tanpa Bangunan

     “Rumah tanpa bangunan yang pernah saya dirikan untuk kamu pulang, ternyata lebih kokoh dari tembok cina. Walau kokoh, sayangnya usang. Karna saya tak lagi mampu melukis bahagia di dalamnya. Kamu tak lagi ada dalam ruang bahagia yang saya punya. Ruang hidup yang lalu pernah ditempati, sekarang terasa hampa dan mati.” ***      Pamitmu yang lalu ternyata menggiringmu kepada pergi tanpa kembali. Dan aku yang masih menanti hingga saat ini tak pernah tahu kemana beranjaknya kamu pergi.     Jika kamu masih menyimpan alamat lama rumah ini, baca ulang dan carilah lagi. Tak pernah berubah, tak akan berganti. Alamatnya masih sama dan rasa yang ada di dalamnya terjamin rapih di setiap pojokan ruang yang pernah kita singgahi. Dinding rumah kita jadi saksinya. Setiap sisi ruangnya merekam segala hal yang pernah kita lakukan.     Tuan, jangan lupa pulang yaa. Pergimu tak pernah kuharapkan, namun kembalimu masih menjadi angan-anganku hingga sekaran...

Kolotnya Manusia

Aku ingat kali pertama kamu membuatku jatuh. Namun sayangnya kamu lakukan hal yang sama pada lain manusia. Kamu rangkai beribu makna cinta agar aku percaya. Bodohnya aku menampung segala harap yang nyatanya hanyalah sebuah tipu daya. Parahnya, walau sudah kamu goreskan luka, terhadapmu aku masih mengharapkan begitu banyak cinta. Berpikiran jika kamu mampu berubah dan akulah yang merubahnya. Mimpiku terlalu tinggi, berusaha menggapai angan yang tak seharusnya kuharapkan. Banyak yang menyangkal, mengataiku karna hal yang tak begitu masuk akal (pikir mereka). Meyakinkanku agar berbalik arah, namun atas asa yang ada, aku tetap berusaha.  Karna hatiku berkusu, kau layak jadi tuan rumahnya. Aku mengusahakanmu. Semesta pula, mengusahakan kita. Isnalee Malang, 12 Maret 2022